Laporan Dharma Shanti Nyepi Tahun Baru Caka 1931
May 14th, 2009 • Category: Artikel Pilihan, Kegiatan TahunanOm Swastyastu,
Hari yang dinantikan pun tiba. Minggu, 3 Mei 2009, merupakan puncak dari seluruh kerja keras panitia gabungan dari 11 universitas. Kami dari KMHB mengawali acara dengan membawakan gamelan untuk menyambut tamu yang datang. Setelah itu, MC pun mulai membuka acara. Acara diawali dengan Tri Sandya bersama yang dipimpin oleh pemangku Bapak I Wayan Budha. Setelah selesai persembahyangan, kami menghibur para penonton dengan persembahan Tari Puspa Resti. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Weda Wakya yang dibacakan oleh I Putu Adi S. dan Halfian Swastika dari STAH.
Setelah pembacaan kitab suci Weda, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Setelah sambutan-sambutan, tibalah pada acara inti Dharma Shanti kali ini, yaitu diskusi keagamaan yang bertemakan “Peranan Generasi Muda dalam Kemajuan Hindu Nusantara” yang narasumbernya adalah Dewa Ketut Suratnaya, S. Ag., M. MPd. dan moderatornya adalah L. G. Sarasdewi, M. Hum.
Dalam diskusi tersebut, Bapak Ketut Suratnaya menyampaikan perkembangan Agama Hindu Indonesia, dimana dimulai sejak berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia. Beliau juga menyampaikan bahwa agama Hindu telah berkembang sejak sebelum Kerajaan Kutai berdiri. Selanjutnya disusul dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu di Pulau Jawa, dimana kerajaan yang pertama berdiri adalah Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Kemudian mengalami puncak kejayaannya adalah sejak berdirinya Kerajaan Majapahit.
Di Indonesia kebanyakan orang mengira bahwa agama Hindu itu sangat identik dengan Bali, terutama dalam hal upacara dalam melasanakan yadnya. Namun demikian, hal tersebut pada kenyataannya berbeda. Umat Hindu di Indonesia tidak semata-mata seperti yang ada di Bali. Agama Hindu berkembang di Indonesia dari Sabang hingga Merauke dengan berbagai Kebhinekaan. Dimulai dari Hindu Batak Karo yang ada di Sumatera, Hindu Dayak di Kalimantan, Hindu Kejawen yang tersebar di Pulau Jawa, Hindu Sidrap, Hindu Toraja, dan Hindu Mamasa di Sulawesi, Hindu Sasak di Nusa Tenggara, dan bahkan ada komunitas Hindu Tiaonghoa di Indonesia. Hal ini tentunya menghadirkan nuansa yang berbeda dalam hal peribadatan, misalnya hari besar keagamaan, bentuk banten, sesajen, dan sarana ibadah yang lain. Begitu pula dengan upacara ngabennya yang konon Hindu Kejawen tidak dibakar, melainkan dikubur dan banyak lagi hal-hal yang berbeda-beda dan mungkin belum bisa diterima oleh orang Hindu Bali sebagai bagian dari keberagaman Hindu di Indonesia.
Melihat perbedaan tersebut, umat Hindu Bali tidak boleh membalikan Hindu tersebut. Karena pada keadaan tertentu masyarakat belum siap menerima suatu pandangan tersebut. Misalnya sebagai contoh dalam hal upacara kematian tersebut. Bapak Suratnaya mengatakan mungkin saja Hindu Kejawen itu belum siap untuk menerima budaya pembakaran mayat (kremasi) seperti di Bali, maka jenasahnya dikuburkan. Namun hal yang menarik, adalah mereka tetap memiliki ikatan yang kuat dengan leluhur mereka masing-masing seperti halnya di Bali.
Menurut ramalan Jayabaya, agama Hindu akan bangkit 400 tahun lagi. Namun dibalik ramalan tersebut masih tersimpan misteri yang belum terpecahkan. Dimulai dari tahun ramalan tersebut dimulai hingga ciri-ciri kebangkitan agama Hindu itu sendiri. Kita sebagai generasi muda diharapkan mencari keberanan Hindu itu dengan sendirinya agar tetap kekal dan abadi. Itulah beberapa hal penting yang penulis dapatkan dari diskusi tersebut.
Muncul beberapa pertanyaan dalam diskusi kali ini dan semua peserta diskusi yang bertanya, masing-masing mendapatkan door prize dari panitia. Setelah diskusi selesai, dilanjutkan dengan santap siang bersama.
Berikutnya giliran persembahan band oleh Niken dan teman-teman lainnya dari Binus. Mereka membawakan lagu yang berjudul “Wonder Women” dan “Nyanyian Dharma”. Lalu dilanjutkan dengan penampilan bintang tamu dari Alam Dewata Band. Mereka mengkombinasikan musik modern berupa band dengan musik tradisional berupa gamelan Bali. Lagu yang mereka bawakan adalah ciptaan mereka sendiri, yaitu berjudul “Dewi Saraswati” dan “Nyanyian Dharma”.
Setelah itu, giliran persembahan tari Golek dari Majapahid dan Tari Barong Sai dari Pura Cikung Biyo. Setelah seluruh persembahan selesai, dilanjutkan dengan pemberian plakat sebagai kenang-kenangan dari panitia. Kemudian acara pun selesai dan ditutup dengan acara berfoto bersama sambil diiring dengan gamelan.
Demikianlah rangkaian acara Dharma Shanti ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu menyukseskan acara ini. Khususnya kepada alumni KMHB sendiri yang telah membantu terselenggaranya acara ini baik secara moril maupun materiil. Tanpa bantuan Bli dan Mbok alumni sekalian, acara ini tidak akan dapat dilaksanakan. Kami mohon maaf apabila terdapat kekurangan selama masa persiapan dan pelaksanaan acara ini, kritik dan saran Bli dan Mbok alumni sangat kami harapkan demi perbaikan di masa datang.
Demikianlah laporan pelaksanaan Dharma Shanti ini. Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan artikel ini. Dokumentasi acara serta LPJ akan segera kami upload di web site ini.
Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa Asung Kertha Waranugraha-Nya kepada kita semua.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om.



































