Pesantian, 24 Juli 2009 (Itihasa)
Jul 29th, 2009 • Category: Artikel Hindu, KerohanianItihasa berasal dari kata iti, ha, dan sa yang berarti sesuatu/kejadian yang benar-benar terjadi. Seperti pengertian yang telah diungkapkan di atas, kejadian yang ditulis dalam kitab-kitab Itihasa merupakan kejadian sesungguhnya dan bukan merupakan rekayasa atau karangan dari penulisnya. Dengan demikian, Itihasa dapat dikatakan sebagai sejarah umat Hindu. Itihasa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana dan Mahabharata.
Ramayana berarti kisah tentang Rama. Ramayana menceritakan tentang kehidupan Sri Rama, Awatara Wisnu yang ketujuh. Kitab Ramayana ditulis oleh Maharsi Walmiki. Kitab Ramayan terdiri atas 24.000 sloka dan terbagi ke dalam tujuh bagian yang disebut Sapta Kanda. Setiap Kanda merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Kanda yang lain.
Sedangkan Mahabharata berarti Bharata yang besar. Mahabharata menceritakan tentang keluarga Bharata yang besar. Pada kitab Mahabharata terdapat pula kisah Sri Khrisna, Awatara Wisnu yang kedelapan, meskipun bukan sebagai tokoh utama, serta kisah disabdakannya Bhagawadgita oleh Sri Khrisna kepada Arjuna. Kitab Mahabharata ditulis oleh Maharsi Wyasa, maharsi yang menyusun serta mengkodifikasikan Weda. Kitab Mahabharata terdiri atas 18 parwa sehingga disebut juga Asta Dasa Parwa. Selayaknya Ramayana, setiap parwa merupakan buku tersendiri namun saling berhubungan dan melengkapi dengan Parwa yang lain.
Sangat disayangkan bahwa banyak umat Hindu, terutama generasi muda Hindu, yang tidak peduli, bahkan tidak tahu tentang kisah-kisah Itihasa ini. Padahal kisah ini merupakan sejarah dari umat Hindu. Ketika mereka disuruh membaca kisah ini, banyak yang malas dan mengatakan bahwa Itihasa membosankan dan sulit dimengerti. Padahal, Itihasa sengaja disusun oleh penyusunnya dalam bentuk epos atau kisah kepahlawanan yang sederhana sehingga menarik dan mudah untuk dimengerti.
Tidak sedikit pula orang yang mengatakan bahwa Itihasa hanyalah dongeng belaka. Pendapat ini sayangnya juga didengungkan oleh umat Hindu sendiri. Itihasa, seperti yang telah dijelaskan di atas, berarti sesuatu atau kejadian yang benar-benar terjadi. Bukti-bukti yang mendukung kisah Itihasa sampai sekarang masih dapat ditemui. Ada jembatan Situbandha yang digunakan oleh Sri Rama dan pasukan kera untuk menyerang Lanka, pulau Lanka (yang sekarang menjadi Sri Lanka) yang merupakan kerajaan Rahwana, Ayodhya yang merupakan tempat kelahiran Sri Rama. Selain itu juga ada Kuruksetra yang merupakan tempat berlangsungnya Bharatayudha, Mathura yang merupakan tempat kelahiran Sri Khrisna, Sungai Gangga, Sungai Yamuna, dan masih banyak bukti-bukti yang lainnya.
Dengan tidak percaya Itihasa berarti kita juga tidak percaya dengan ajaran Agama Hindu. Kita tahu bahwa Sri Rama dan Sri Khrisna merupakan Awatara Wisnu yang ketujuh dan kedelapan. Bhagawadgita juga merupakan salah satu pustaka suci Hindu yang bahkan disebut “Pancama Weda” atau Weda yang kelima. Dalam Itihasa telah dijelaskan bagaimana kisah hidup kedua Awatara Wisnu tersebut dan bagaimana Bhagawadgita disabdakan. Kalau Itihasa saja kita tidak percaya kebenarannya, bagaimana kita meyakini kebenaran ajaran Weda dan Bhagawadgita yang merupakan kitab suci Agama Hindu? Apakah pantas orang yang tidak percaya dengan kebenaran ajaran Weda dan Bhagawadgita disebut sebagai umat Hindu?
Akan tetapi, kita harus memahami bahwa Itihasa bukanlah merupakan kitab suci. Kitab suci dalam ulasan ini adalah kitab suci sebagai pegangan sebuah agama. Weda, yang merupakan kitab suci Agama Hindu, bersumber dari Tuhan yang diwahyukan melalui Sapta Rsi. Weda merupakan sumber segala Dharma dan hukum Hindu. Weda memuat kebenaran dan sama sekali tidak mengajarkan kejahatan.
Itihasa hanyalah sejarah dari umat Hindu. Seperti sejarah yang lain, dalam Itihasa terdapat kejadian yang baik dan kejadian yang buruk. Dalam Itihasa diceritakan tentang bagaimana kesetiaan Sita kepada Rama, bagaimana bijaksananya Sri Rama, nasionalisme Kumbakarna, bagaimana jujurnya Yudhistira, keteguhan Bhisma akan sumpahnya, keberanian Arjuna dan masih banyak hal-hal baik lainnya. Hal-hal tersebut merupakan hal yang patut ditiru. Selain itu, ada pula kejadian dalam Itihasa yang tidak boleh ditiru dan harus dihindari. Misalnya mencuri istri orang lain seperti yang dilakukan oleh Rahwana, berjudi seperti yang dilakukan oleh Yudhistira yang akhirnya membawa kesengsaraan bagi dirinya beserta saudaranya, iri hati dan dengki yang dimiliki oleh Duryodhana yang akhirnya berujung pada kehancuran dirinya dan seluruh wangsa Kuru.












om awighnam astu namo sidham,,,
om santhi santhi santhi om