SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Trisarana: Welas Asih dan Tiga Tahap Memaknai Hidup

Trisarana: Welas Asih dan Tiga Tahap Memaknai Hidup

Namo Gurube,

Namo Buddhaya, Namo Dharmaya, Namo Sanghaya.

Sujud kepada Sang Triratna.

“May I be a protector for those who are without protectors, a guide for travelers, and a boat, a bridge, and a ship for those who wish to cross over.” (Bodhicaryaavatara-Bab III:17)

“Semoga aku mengingat betapa cepat kematian mengakhiri kehidupan, begitu rapuh bagaikan gelembung udara di atas permukaan air, dan bagai mana setelah kematian karma  baik dan buruk akan mengikuti, seperti bayangan kita.” (Dasar Semua Kebajikan)

Ketika mendengar kabar bahwa tetangga kamar saya meninggal dunia, saya syok. Batin saya terpukul, bagaimana kalau Raja Kematian ternyata datang kepada saya juga. Saya bukanlah seorang yang tetah terbebaskan atau meditator atau yogi atau ahli agama yang hapal dengan banyak sutra. Saya hanya seorang manusia yang masih diliputi penderitaan.

Keinginan untuk menjadi seperti mereka selalu muncul tetapi hanya mampir sebentar dan kemudian pudar. Saya kembali menghabiskan sebagian besar dari dua puluh empat tahun ini dengan tidur, mengantuk di kelas dan kadang menangis. Membaca buku apalagi buku dharma sangat bisa dihitung dengan jari. Banyak hal yang ingin saya kejar sekolah, karier, pasangan, dan capaian-capaian lainnya yang saya pikir bisa memenuhi sesuatu di dalam diri saya.

Tetapi kemudian saya berbalik dan bertanya pada diri sendiri, apakah keinginanmu memang akan terisi penuh? Saya hanya merasakan sebuah lubang hitam menganga. Menarik sebanyak-banyaknya hal. Beberapa orang mungkin benci dengan saya yang baru menjalani hidup seperempat abad saja tetapi sudah berani bicara seperti itu.

Maksudnya kita bukan harus membenci dunia, kita hanya perlu menerimanya tak usah membenci atau pun melekatinya.  Mungkin kita sudah banyak pergi jauh bahkan satu dua orang manusia sudah pergi ke bulan, sesekali kita perlu untuk pulang. Kita sudah lama tidak berkunjung ke dalam diri kita.

Dari dua puluh empat jam sehari, lima menit sebelum tidur sebaiknya kita gunakan untuk melihat ke dalam. Kita alihkan “mata” kita yang biasa memandang dan mengejar hal-hal luar ke dalam. Ini bukan lah meditasi, hanya duduk dan berdamai dengan diri sendiri serta memberi waktu untuk menyapa ke dalam.

Mungkin juga kita bisa berbincang dengan diri sendiri yang sudah lama tidak diajak bicara, semisal apa kabar? Atau apa sih yang sebenarnya kamu yang di dalam sana inginkan? Kalau kita masih ‘melihat’ ‘seseorang’ yang kehausan di dalam sana, kita masih bisa melanjutkan membaca artikel ini. Jika tidak ada ‘diri’ atau ego yang kita temukan, artikel ini sudah tidak perlu lagi anda baca.

Selama setengah dari usia kita –kalau kita estimasikan hanya sampai 60 tahun- kita mencoba memberi minum seseorang yang kehausan di dalam sini dengan mengejar banyak hal semisal uang, kekuasaan, perang, keturunan. Sisanya kita pakai untuk tidur, makan, sakit. Lalu untuk apa sebenarnya kita ada hingga enam puluh atau mungkin seratus tahun? Dan bagaimana kalau ternyata ‘minuman’ tersebut hanya air laut dan jerami yang tidak bisa menghilangkan dahaga dan lapar ego kita. Kita semakin lama semakin haus.

Apakah hidup kita hanya untuk berjalan mengikuti perintah seseorang yang selalu haus ini kemudian mati? Kalau begitu berarti tubuh manusia ini hanya kita gunakan seperti tubuh hantu kelaparan di alam preta. Kalau bahasa jawanya eman-eman atau sungguh sayang kalau hanya untuk itu.

Di sebuah tradisi Buddhisme digambarkan bahwa tubuh manusia ini lebih bernilai dari permata pengabul harapan. Kita bisa menjadi sekaya Bil Gates atau sepintar Stephen Hawking dengan tubuh ini. Dengan tubuh ini pun kita bisa menjadi seperi Siddharta Gautama yang berhasil membebaskan banyak makhluk dari penderitaan. Lalu kembali kepertanyaannya, seperti apa kita memandang makna dari hidup kita sebagai manusia?

Tidak ada jaminan bahwa setelah kematian kita nanti, kita tidak akan jatuh ke alam rendah. Saat kita duduk coba bayangkan kalau sehari atau beberapa jam lagi kita meninggal dan jatuh ke alam rendah (mungkin menjadi binatang, hantu kelaparan atau makhluk neraka). Hidup menjadi manusia saja sudah berat apalagi di alam rendah sana, sudah tidak terbayangkan lagi. Singkatnya jika kemudian kita memutuskan umur ini kita pakai supaya nanti tidak jatuh ke alam rendah kita mulai menapaki anak tangga pertama.

Untuk menghindari kelahiran di neraka misalnya kita akhirnya mulai berbuat banyak kebajikan, menjadi donatur tetap di sana sini, mempersembahkan pelita, dupa dan bunga, kemudian berlindung kepada Triratna. Dengan begitu selanjutnya kita selamat di kehidupan berikutnya. Kemudian ternyata sebagai manusia di kehidupan berikutnya kita tidak bertemu dharma. Kita terlahir dengan kekurangan atau dengan kesibukan dan tidak sempat berbuat banyak kebajikan, kemudian jatuh lagi ke alam rendah dan terus berputar seperti itu saja tidak ada habisnya.

Lalu apa si ‘preta’ yang bernama ego di dalam diri kita sudah bisa kenyang? Tidak juga kan? Kita terus menerus kembali mulai dari nol, mencoba mengejar banyak hal dan kembali lagi ke nol. Kita mengumpulkan banyak rumah kemudian kita tinggal mati lalu mulai lagi dari nol. Menyedihkan.

Beranjak dari penderitaan jika kita jatuh ke neraka atau alam hantu kelaparan dengan tenggorokan selebar jarum dan perjalanan jauh yang menyiksa atau alam binatang dimana kita selalu dikejar predator atau disembelih setelah mati nanti kita bayangkan betapa kita tidak pernah puas dan karena itu harus terus berputar memulai segalanya dari nol mengejar lagi kemudian mati tertinggal semuanya dari nol lagi begitu seterusnya. Kemudian setelah merenungi penderitaan samsara ini kita berpikir kalau begitu bagaimana saya bisa lepas dari lingkaran tak berujung ini? Kalau sudah menyadari hal tersebut kita sudah mulai menapaki anak tangga kedua.

Kita mulai mendapatkan makna dari hidup ini. Umur saya ini adalah agar saya bisa keluar dari lingkaran samsara. Jika berkesimpulan seperti ini tentu sangat bagus sekali. Dengan motivasi tersebut kita akan mulai berpraktik dan belajar membebaskan diri dari jeratan penderitaan samsara.

Ketika kita berhasil membebaskan diri dengan motivasi hanya untuk keselamatan diri sendiri tanpa sadar kita telah meninggalkan banyak makhluk di dalam penderitaan. Mari kita pikirkan, kita sudah terlahir sejak awal yang tak terhingga lalu bayangkan kalau begitu sudah  dari berapa rahim kita terlahir? Tak terhingga juga bukan?

Kita paling cepat menangis ketika sesuatu hal buruk menimpa ibu kita, beliau adalah orang yang paling kita sayangi dan kita coba untuk lindungi. Bahkan cinta kita terhadap ibu masihlah terkondisi karena ia ibu kita bagaimana kalau ia orang yang tak kita kenal apakah kita masih dapat merasakan cinta kasih yang sama? Begitu sebaliknya cinta ibu kita pun bukanlah unconditional love.

Bagaimana kalau kita bayangkan kedua penderitaan yang telah kita renungkan sebelumnya baik alam rendah maupun penderitaan samsara terjadi pada ibu kita. Kita bayangkan wajahnya yang selalu merawat kita dengan kasih sayang harus menerima semua penderitaan tersebut. Apakah kita bisa menahannya? Bahkan kalau bisa kita rela menggantikannya agar ia tidak menderita.

Kemudian bayangkan sejak waktu yang tak terhingga berapa banyak ibu kita di masa lalu yang mungkin tadi baru saja kita injak di kamar mandi karena terlahir sebagai kecoak atau menjadi hewan ternak yang sedang dibawa ke rumah jagal. Dengan mengetahui akan samsara yang berputar terus kita tidak ragu bahwa semua makhluk adalah pernah menjadi ibu kita. Lalu apakah tega kita meninggalkan ibu kita terus berputar dari neraka hingga ke alam dewa terus hingga jatuh lagi ke neraka? Dan selama anda membaca artikel ini itu semua sedang terjadi.

Dengan menyadari bahwa semua makhluk pernah menjadi ibu kita dan sedang di dalam penderitaan yang tak tertahankan kita mentransformasikan cinta kasih kita yang masih terkondisi menjadi unconditional love. Sesuatu yang bersyarat menjadi tak lagi bersyarat karena ibu-ibu kita di masa lampau tersebut tak ada bedanya dengan ibu kita saat ini mereka butuh untuk terbebas dari penderitaan. Membebaskan tak hanya diri sendiri tetapi semua makhluk dari penderitaan, inilah anak tangga yang ketiga.

Ketiga motivasi tersebut adalah apa yang harus kita lakukan di batin kita saat kita melakukan Trisarana (Berlindung Kepada Buddha, Dharma dan Sangha). Dengan merenungi dan menyadari penderitaan alam rendah dan samsara yang dialami baik oleh diri sendiri maupun semua makhluk kita menimbulkan dorongan urgensi bahwa kita harus segera berlindung kepada Triratna. Kemudian kita juga memunculkan motivasi yang sangat besar saat berlindung untuk segera mencapai pembebasan untuk kebahagiaan semua makhluk—ibu-ibu kita.

Meski bulan kasih sayang telah lewat kalau kita akhirnya berhasil memaknai umur kita yang singkat ini dengan semangat cinta kasih yang tak bersyarat kepada semua makhluk—ibu-ibu kita upaya kita menggapai pencerahan menjadi tak ternilai karena dilakukan untuk makhluk yang tak terbatas jumlahnya.

Semoga kita berhasil menyadari betapa berharganya kehidupan manusia ini dan besarnya kesempatan mencapai kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk.  Semoga dengan mulai disusunnya tulisan ini pada pada Bulan Maret 2014 yang penuh berkah dimana terdapat empat hari istimewa yaitu Losar (Tahun Baru Tibet), Hari Peringatan Parinirwananya Y.M. Milarepa, Hari Peringatan Lahirnya Bodhisattva Awalokiteshwara, dan Chotrul Duchen (hari peringatan Sang Buddha Gautama menunjukkan berbagai keajaiban dimana pada hari itu setiap perbuatan baik atau buruk akan berlipat sepuluh juta kali) akan meningkatkan pancaran cinta kasih dan motivasi kita untuk mencapai pembebasan.

Sarwa Manggalam,

Semoga semua makhluk berbahagia dan terbebas dari penderitaan.

oleh : Satria Anggaprana