SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Hari Raya Kuningan

oleh : Ni Wayan Sintya Galuh Paramita

Hari raya Kuningan diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali berdasarkan perhitungan kalender Bali tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Hari raya Kuningan adalah rangkaian dari upacara Hari raya Galungan. Hari raya Kuningan merupakan hari pertahanan, kekuatan, atau hari pahlawan sedangkan hari raya Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma. Di hari ini diceritakan Ida Sang Hyang Widhi turun ke dunia untuk memberi berkah kesejahteraan kepada seluruh umat di dunia. Pada hari yang suci ini pemujaan ditujukan untuk para Dewa dan Pitara agar turun melaksanakan pensucian mukti atau menikmatisesajen-sesajen yang dipersembahkan.

Penyelenggaraan upacara Kuningan diisyaratkan supaya dilaksanakan semasih pagi dan tidak dibenarkan setelah matahari condong ke barat karena setelah tengah hari para Dewa, Bhatara, dan Pitara akan kembali ke sorga. Sarana upacara sebagai simbol kesemarakan dan kemeriahan terdiri dari berbagai macam jejahitan yang mempunyai simbolis sebagai alat-alat perang yang diparadekan seperti tamiang, endongan, wayang-wayang, dan lain sebagainya. Tamiang adalah lambang perlindungan dan melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Sedangkan endongan maknanya adalah perbekalan. Bekal yang paling utama dalam menjalani kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti, sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Pada hari raya ini juga dibuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran.

Inti dan makna dari hari raya Kuningan itu sendiri adalah untuk memohon keselamatan, kemakmuran, kesejahteraan, perlindungan, juga tuntunan lahir batin kepada para Dewa, Bhatara, dan Pitara agar semua yang diinginkan dapat terkabul dan terlaksana. Hari raya Kuningan juga disebut sebagai hari kasih sayang. Umat dituntut untuk selalu ingat menyamabraya, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial, juga diharapkan untuk selalu ingat kepada lingkungan agar tercipta harmonisasi alam beserta isinya. Pada perayaan ini, umat diajak untuk selalu ingat kepada Ida Sang Hyang WIdhi Wasa dan mensyukuri segala karunia-Nya.

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

HARI RAYA GALUNGAN

oleh : Putu Afrilia

Pada Tanggal 17 Desember 2014 kemarin anggota KMHB telah bersama melaksanakan persembahyangan dalam rangka memperingati salah satu hari suci dalam agama Hindu yaitu Hari Raya Galungan di Pura Merta Sari. Hari Raya Galungan datang setiap 6 bulan sekali atau 210 hari sekali dan jatuh pada hari Rabu atau Buda Kliwon Wuku Dungulan. Kita melaksanakan upacara di hari suci Galungan sebagai peringatan perayaan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan) dan sebagai hari pawedalan jagat. Pada hari suci Galungan, Sang Hyang Widhi turun kedunia melalui manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Mahadewa bersama para Dewata untuk memberikan restu kepada umatnya.

Rangkaian Hari Raya Galungan :

Perayaan Hari Raya Galungan dan juga Kuningan merupakan rangkaian perayaan yang paling panjang di antara hari-hari raya Agama Hindu, dimana jarak waktunya selama 60 hari.

    Tumpek Wariga

    Hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga disebut Tumpek Wariga, jatuh 25 hari sebelum Galungan. Persembahan ditujukan kepada Dewa Sankara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dengan mempersembahkan banten (sesajen) pada pohon-pohon kayu yang menghasilkan buah, daun, dan bunga yang akan digunakan pada Hari Raya Galungan.Peringatan hari ini merupakan wujud Cinta Kasih manusia terhadap tumbuh-tumbuhan.

    Sugihan Jawa

    Hari Kamis Wage Wuku Sungsang diadakan upacara Sugihan Jawa yaitu sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrokosmos). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.

    Sugihan Bali

    Hari Jumat Kliwon wuku Sungsang, setiap orang melaksanakan Sugihan Bali. Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan badan jasmani dan rohani masing masing (bhuana alit). Tata cara pelaksanaannya adalah dengan cara mandi, melakukan pembersihan secara fisik, dan memohon Tirta Penglukatan.

    Hari Penyekeban

    Jatuh pada hari Minggu Pahing wuku Dungulan, Hari Penyekeban ini memiliki makna filosofis untuk “nyekeb indriya” yang berarti mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama karena pada hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam pelaksanakan hari Galungan.

    Hari Penyajan

    Hari ini dirayakan setiap Senin Pon wuku Dungulan. Hari penyajan ini memiliki filosofis yaitu memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan. Menurut kepercayaan, pada hari ini umat akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian diri umat Hindu untuk melangkah lebih dekat lagi menuju
    Galungan. Maka dari itu, lebih baik setiap umat mengadakan Tapa Brata Yoga Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata.

    Hari Raya Galungan

    Pagi hari umat telah memulai upacara untuk Galungan. Dimulai dari persembahyangan di
    rumah masing-masing hingga ke Pura sekitar lingkungan. Tradisi yang kerap kita jumpai pada Galungan adalah Tradisi Pulang Kampung” umat yang berasal dari daerah lain, seperti perantauan akan menyempatkan diri untuk sembahyang ke daerah kelahirannya masing-masing.

    Hari Umanis Galungan

    Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh sukacita. Jadi pada hari ini, umat Hindu wajib menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia, inilah misi umat Hindu Dharma.

    Hari Pemaridan Guru

    Dirayakan pada hari Sabtu Pon wuku Dungulan. Maknanya pada hari ini dilambangkan dengan kembalinya Dewata-dewati, pitara-pitari, para leluhur ke tempat payogannya masing-masing dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan atau hidup sehat umur panjang.

    Hari Pamacekan Agung

    Dirayakan pada Senin Kliwon wuku Kuningan. Tepat pada hari ini merupakan hari pertengahan dari rangkaian panjang hari raya Galungan. Pada hari ini umat menancapkan dan meneguhkan tekadnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan selanjutnya dengan senantiasa berpegang teguh pada dharma.

    Hari Kuningan

    Sepuluh hari setelah hari raya Galungan dilaksanakan hari Kuningan. Pada Hari ini diyakini bahwa para dewata dan roh-roh leluhur akan turun ke marcapada/mayapada untuk menerima sembah bakti umat dengan segala cinta kasihnya dan pada siang harinya para dewata dan roh suci leluhur kembali menuju kahyangan masing-masing yang diyakini tempatnya di svargaloka (alam sorga). Keunikan di hari raya Kuningan selain penggunaan warna kuning adalah yaitu persembahyangan harus sudah selesai sebelum jam 12 siang, sebab persembahan dan persembahyangan setelah jam 12 siang hanya akan diterima Bhuta dan Kala karena para Dewata semuanya telah kembali ke Kahyangan.

    Hari Pegat Wakan

    Seluruh rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan berkahir pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang atau sebulan setelah Galungan. Dilaksanakan dengan cara melakukan persembahyangan mengahturkan suksmaning manah lan idep kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia dan wara nugrahanya bisa melaksanakan rangkaian perayaan hari Raya Galungan dengan sempurna. Dan mencabut penjor yang telah dibuat pada hari Penampahan. Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah.

Makna filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari dharma dan adharma dalam diri manusia.

http://beritabali.com/index.php/page/berita/dps/detail/2013/10/22/Rangkaian-Upacara- dan-Makna-Hari-Raya-Galungan-/201310220003
http://id.wikipedia.org/wiki/Galungan

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

TRADISI FANG SHEN

Oleh : Denny Wijaya

Pada hari Jumat, 9 Januari 2015 umat Buddha STAN Jakarta melaksanakan Tradisi Fang Shen di Graha. Acara dimulai pada pukul 12.00 dan diawali dengan Puja. Selanjutnya Tradisi Fang Shen pun dilakukan dengan melepaskan burung yang hendak dijadikan makanan bagi ular dan jangkrik yang hendak menjadi makanan bagi burung.

Pelepasan burung

Pelepasan Jangkrik

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai makna cinta kasih dan fang shen pada umat Hindu yang ikut meramaikan perayaan Tradisi Fang Shen.

Apa itu Tradisi Fang Shen?

Tradisi Fang Sheng sangat erat dengan ajaran agama Buddha Mahayana Tiongkok. Tetapi ada makna yang tersirat dibalik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan. Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa kita lihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.

Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin, yang mana Fang berarti “melepas” dan Sheng menunjuk pada “makhluk hidup”. Dengan demikian, Fang Sheng memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing agar mereka dapat mereguk kembali kehidupan alam yang bebas dan bahagia (tidak dikurung). Selain itu, tujuannya juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.

Fang shen (Pelepasan Makhluk Hidup) sesungguhnya merupakan tindakan untuk menebar cinta kasih kepada semua makhluk. Kita dengan melepas makhluk tersebut ke alam bebas maka kita telah menebarkan cinta kasih. Perbuatan ini merupakan perbuatan yang sangat positif untuk melatih diri kita melakukan perbuatan baik dengan memunculkan benih cinta kasih.

Fang shen yang dilakukan sesungguhnya didasari pada harapan agar semua makhluk hidup berbahagia dan bebas dari penderitaan. Dengan melakukan Fang shen berarti kita telah berkontribusi dalam menjaga ekosistem untuk menghindari dari kepunahan spesies-spesies. Kita mengembalikan mereka ke habitatnya sehingga mereka dapat bereproduksi untuk menghasilkan hewan-hewan baru. Sebuah tebaran cinta kasih yang mulia.Umat Buddha memandang Fang shen ini merupakan kegiatan yang penting dan perlu untuk dilaksanakan secara terus-menerus. Hal ini karena Fang shen memiliki makna spiritual yang sangat dalam, yaitu : Pengembangan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk. Salah satu cara untuk purifikasi karma buruk, khususnya karma membunuh, yaitu dengan melakukan hal yang berkebalikan (antidote). Dengan Fang shen, kita telah memperpanjang umur makhluk hidup, yang berkebalikan dengan mengambil nyawa dari makhluk lain.

Pelepasan terhadap satwa mengandung arti pula dengan melepaskan penderitaan hewan dapat hidup bebas dihabitatnya diharapkan dengan perbuatan serupa tersebut kita pun dapat terbebas dari segala kesulitan dan kesukaran hidup yang kita hadapi dan alami.Pengaruh ekosistem, yaitu kegiatan ini ikut menjaga dan memelihara keseimbangan alam, baik habitat yang hidup di air maupun di darat karena kita mengenal adanya hukum alam.Keseimbangan alam akan mempengaruhi hidup manusia. Oleh karena itu kita perlu bijaksana dalam mengatur dan memanfaatkan alam semesta. Tindakan penggalian alam secara maksimal tanpa ada upaya menjaga keseimbangan akan membawa bencana pada manusia nantinya.

Buddha Dharma adalah ajaran yang sangat menghargai kehidupan. Setiap makhluk hidup (sekecil apapun) adalah sama berharganya dengan diri kita. Buddha Dharma mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak mengakhiri kehidupan makhluk lain dengan alasan apapun. Dalam Kitab Suci Tripitaka, bagian Anguttara Nikaya III, 203, Buddha mengajarkan lima aturan moral (sila) yang dikenal dengan Panca Sila Buddhis. Kelima sila tersebut adalah bahwa seorang umat Buddha bertekad melatih diri menghindarkan diri dari:

1. Pembunuhan makhluk hidup.
2. Perbuatan pencurian.
3. Perbuatan asusila.
4. Ucapan yang tidak benar.
5. Minuman yang menyebabkan kesadaran berkurang.

Sila adalah aturan moral yang dijalankan oleh seorang umat Buddha. Aturan moral ini bukanlah perintah ataupun larangan, karena azas ajaran Buddha adalah kebijaksanaan. Buddha tidak pernah menerapkan larangan ataupun perintah dalam ajaran Beliau. Buddha senantiasa memberi teladan dan mengajarkan Dharma dengan menjelaskan apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang tidak baik untuk dilakukan, bukan apa yang harus dilakukan (perintah) dan apa yang tidak boleh dilakukan (larangan). Karena itu, sila adalah pernyataan tekad mulia yang muncul dan berkembang dari dalam lubuk hati kita sendiri, dengan tanpa adanya paksaan dari siapapun.

Pembunuhan, apapun bentuknya, adalah hal yang tidak baik untuk dilakukan karena pembunuhan berarti mengakhiri kehidupan makhluk lain. Jika kita sebagai manusia memiliki hasrat untuk hidup, serta tidak ingin kehidupan kita diambil, demikian juga yang dirasakan dan diinginkan oleh makhluk lain. Hal ini tidak dapat dipungkiri, tapi mungkin kita berusaha mengingkarinya dengan mengutamakan kepentingan diri kita di atas kepentingan makhluk lain.

Keseluruhan ajaran Buddha dapat dirangkum dalam sebait syair yang indah yang berbunyi:

Sabba pappasa akaranam,
Kusala uppasampada,
Sacitta pariyodapanam,
Etam Buddhanam sasanam

Janganlah melakukan perbuatan jahat,

Perbanyaklah berbuat kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah inti ajaran Buddha.
(Dhammapada XIV, 183)

Fang Sheng, sesungguhnya adalah aplikasi sederhana yang lengkap dari bait syair tersebut. Tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup (sila pertama) adalah bahwa kita tidak melakukan perbuatan jahat dengan merenggut kehidupan makhluk lain. Bahkan, setelah melepaskan diri dari melakukan kejahatan pembunuhan makhluk hidup, lebih jauh lagi adalah dengan memperbanyak berbuat kebajikan, yakni membebaskan makhluk-makhluk hidup yang menderita, kapan saja dan di mana saja hal tersebut dapat dilakukan. Kehendak mulia yang mendasari perbuatan Fang Sheng yakni berharap agar semua makhluk hidup berbahagia dan terlepas dari penderitaan, ini menunjukkan bahwa kita telah mulai memasuki tahap penyucian hati dan pikiran, sehingga niat-niat jahatpun tidak akan mendapat tempat dalam batin kita.

Disadari atau tidak, ajaran cinta kasih universal (tanpa kondisi dan persyaratan apapun, pun tidak hanya terbatas pada manusia) yang dibabarkan oleh Buddha adalah ajaran yang ramah lingkungan. Ajaran Buddha secara langsung atau tidak langsung memberikan kontribusi luar biasa bagi upaya pelestarian lingkungan hidup.Fang Sheng adalah perluasan dari sila untuk tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup serta menjadi sebuah solusi untuk mengembalikan ekosistem sehingga kepunahan spesies-spesies karena ulah manusia dapat dihindarkan.

Setelah penjelasan tentang Tradisi Fang Shen, umat Buddha KMHB STAN melakukan pelimpahan jasa dan dedikasi. Perayaan Fang Shen pun ditutup dengan acara makan siang bersama antara umat Buddha dan umat Hindu KMHB STAN Jakarta, yang dibuka dengan pemotongan tumpeng.

Pemotongan Tumpeng

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Siwaratri Memaafkan

Om Swastyastu,

Membicarakan Hari Raya Siwaratri, kita tak akan bisa terlepas dari kata dosa. Sebenarnya,apakah yang sebenarnya dimaksud dengan dosa itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua pengertian dosa, yakni (i) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama; dan (ii) perbuatan salah. Dari kedua pengertian tersebut, dapat kita katakan bahwa pada dasarnya dosa dapat dikatakan sebagai kesalahan. Kesalahan merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihindari walaupun setiap manusia selalu berusaha untuk meminimalisir kesalahan yang dilakukan.

Kesalahan akan menimbulkan rasa tidak suka, rasa tidak suka berpotensi menjadi rasa benci, dan rasa benci tersebut akan menjadi beban dalam menjalani kehidupan. Sehingga, melepaskan beban adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh manusia sebagai makhluk yang tak akan luput dari kesalahan.

Bagaimana caranya?

Cukup dengan memaafkan. Kita hendaknya memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain kepada kita serta meminta maaf atas segala kesalahan yang kita lakukan pada orang lain yang tentunya tak akan kita ulangi lagi. Apakah dengan meminta maaf sudah bisa membuat hati kita terlepas dari beban? Belum tentu. Sehingga kita perlu memaafkan diri kita sendiri akan kesalahan yang telah kita lakukan, baik kepada oang lain ataupun diri sendiri.

Melalui Hari Raya Siwaratri, dengan jagra selama 36 jam, kita bisa mengidentifikasi dan merenungi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Penyesalan yang kita akui sudah seharusnya dimaafkan dan tak diulangi. Pada dasarnya maaf bukan sekadar permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi dan orang lain, tetapi sebuah proses pendewasaan diri manusia. Melalui Hari Raya Siwaratri, mari kita melepaskan diri dari segala dosa, baik dosa orang lain terhadap kita, dosa kita terhadap orang lain, ataupun dosa kita kepada diri kita sendiri. Pelepasan dosa adalah proses untuk mencapai hari esok yang lebih cerah. Memaafkan adalah jalan untuk mencapai hari itu. Dengan memaafkan, berarti kita  melepaskan dosa-dosa yang ada pada diri kita.

Terbebasnya dosa dari diri kita, terbebasnya rasa bersalah dari diri kita adalah satu langkah di Moksa. Moksa adalah kebebasan, bebas dari kesalahan. Dengan terbebas dari rasa bersalah, dengan terlepas dari rasa bersalah, sesungguhnya kita telah mencapai Moksa karena kata moksa berarti bebas atau lepas. Merenungi kesalahan dan memaafkannya adalah jalan menuju moksa. Selamat menempuh jalan menempuh Moksa di dunia.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh : Gus Artha

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

“Spirit to Live in Harmony” KMHB STAN di Ajang Olahraga Gembira X

Oleh: Made Indah Prayascita Dewi

Pagi itu suasana cerah dan tenang, beberapa anggota KMHB STAN terlihat sudah mulai berkumpul di depan GKI sambil menunggu anggota lainnya. Semuanya terlihat mengenakan pakaian olahraga—celana training dan baju kaos. Beberapa ada yang membawa tas ransel, raket bulutangkis, ada pula yang membawa bola basket di tangannya. Beberapa saat kemudian, terlihat sekelompok anggota KMHB yang datang dari arah kampus STAN dengan membawa kantong plastik berisi kostum futsal berwarna pink cerah. Dengan demikian, lengkaplah sudah pasukan KMHB STAN yang akan berangkat menuju Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma dan berpartisipasi dalam acara Olahraga Gembira.

Olahraga Gembira merupakan sebuah ajang tahunan antarpemuda Hindu se-Jabodetabek yang digelar untuk kesepuluh kalinya oleh Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma (Peradah) Indonesia DPP DKI Jakarta. Pada tahun 2014 ini, kegiatan Olahraga Gembira mengambi lokasi di pelataran Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (1/11/2014) dan Minggu (2/11/2014). Pada tahun 2012 lalu, KMHB STAN tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan kegiatan Olaraga Gembira yang pada saat itu diselenggarakan di Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dikarenakan keterbatasan anggota yang ada. Namun tahun ini, STAN mencoba peruntungannya kembali untuk merebut piala-piala dalam ajang Olahraga Gembira ini. Ketercukupan pemain bagi cabang-cabang lomba yang ada dan juga antusiasme anggota yang tinggi kembali menerbitkan harapan bagi KMHB STAN untuk ‘eksis’ terdengar kembali keberadaan dan prestasinya.

Pada hari pertama kegiatan Olahraga Gembira (Sabtu/1/11), Rombongan KMHB STAN berangkat dari Bintaro pada pukul 08.00 WIB dan tiba pada pukul 09.30 WIB di pelataran Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma. Kami segera menuju lokasi pembukaan acara untuk kemudian melakukan registrasi peserta. Adapun cabang-cabang olahraga yang dilombakan antara lain: futsal, basket 3 on 3, tenis meja, bulutangkis, dan voli. Ada juga permainan olahraga seperti bakiak, tarik tambang, lari karung, serta lomba mewarnai, fotografi dan yel-yel. KMHB STAN sendiri mengikuti hampir semua cabang yang ada kecuali lomba mewarnai (yang khusus untuk anak usia dini) dan fotografi. Kami kemudian bersiap-siap untuk acara pembukaan kegiatan gembira secara resmi oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Drs. Anak Agung Ngurah Puspayoga dan dihadiri pula oleh Marsekal Madya, I Gede Sudana sebagai sesepuh umat Hindu di Jakarta, perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, Ketua Umum Peradah Indonesia, Presidium KMHDI, ketua Banjar se-Jabodetabek dan teman-teman OKP se-DKI Jakarta. Acara dibuka dengan meriah dan lancar.

Lomba pertama yaitu lomba yel-yel. KMHB STAN mengirim 4 orang peserta dan mendapat urutan kedua. Namun, berhubung peserta nomor urut pertama tidak kunjung hadir, jadilah kami KMHB STAN yang membuka lomba yel-yel. Penampilan kami tidak bias dibilang memukau tetapi patut diacungi jepol karena keberanian putri-putri KMHB STAN menampilkan yel-yel yang dibuat hanya dalam waktu singkat. Setelah itu, kami bersiap-siap mengikuti ajang-ajang olahraga selanjutnya. Tim futsal sudah standby di lapangan futsal, begitu juga dengan tim voli dan basket putra. Sayang sekali, perwakilan tim KMHB STAN di ketiga cabang olahraga tersebut bermain berbarengan. Jadi, dukungan untuk tiap-tiap tim cabang olahraga tidak maksimal. Tapi syukurlah, tim futsal, basket putra dan voli semuanya menang dan lolos ke babak selanjutnya. Untuk basket putri, pertandingan langsung diadakan sampai final pada hari pertama. Tim KMHB STAN dengan sangat gemilang berhasil meraih posisi juara ketiga setelah sebelumnya dikalahkan oleh tim basket putri KMHD UI yang meraih juara pertama.

Hari kedua pelaksanaan olahraga gembira (Minggu/2/11), anggota KMHB STAN kembali berangkat ke Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma untuk melanjutkan perjalanan kami menjadi juara. Seperti biasa kami berkumpul di depan GKI dan berangkat bersama dari Bintaro kira-kira pukul 8.30 WIB dan tiba kira-kira pukul 09.30 WIB. Tim futsal langsung bersiap-siap setiba kami di Halim karena mendapat waktu pertandingan diawal. Para pemain lomba tarik tambang, balap karung dan bakiak juga sudah standby bersiap-siap melaksanakan perlombaan yang diadakan di jaba sisi Pura Agung Taman Sari. Pada permainan tarik tambang, tim KMHB STAN sayang sekali tidak menang. Lomba selanjutnya yaitu bakiak putri dan putra, KMHB STAN mendapatkan posisi juara dua pada bakiak putra. Pada cabang balap karung putra dan putri, KMHB STAN berhasil meraih juara dua lagi pada cabang balap karung putri. Selanjutnya, di cabang basket putra, Pertandingan berlangsung sangat seru dan ketat. Pertandingan berakhir dengan tim basket putra KMHB STAN yang harus rela menyerahkan posisi juara pertama bagi tim Bekasi dan cukup puas untuk menempati posisi juara kedua. Pada cabang olahraga voli dan futsal, tim KMHB STAN gagal lolos ke final. Begitu pula dengan cabang olahraga tenis meja dan bulu tangkis sangat disayangkan tim KMHB STAN tidak lolos ke semifinal. Pada penghujung acara, diadakan games sambil menunggu pengumuman pemenang. Berhubung hari sudah semakin sore, dan menimbang banyak dari anggota kami yang pada hari senin berkuliah di pagi hari, tim KMHB STAN memilih untuk pulang lebih dulu sebelum acara selesai. Kami kembali ke Bintaro sekitar pukul 18.30 WIB dan tiba sekitar pukul 21.00 WIB.

Keesokan harinya, KMHB STAN mendapatkan kabar gembira.  Kami berada pada peringkat juara umum ketiga kegiatan Olahraga Gembira X 2014 Peradah DPP DKI Jakarta. Juara satu umum diraih oleh Kontingen Sekaa Teruna Hindu Dharma (STHD) Ciledug yang sukses mempertahankan gelarnya. Sementara itu, Tuan rumah Halim menjadi runner up. Melalui ajang Olahraga Gembira ini, diharapkan menjadi ajang simakrama antarumat Hindu se-Jabodetabek yang juga merupakan sarana interaksi, pengembangan kreativitas, kesadaran berolahraga, dan meningkatkan sikap sportivitas pemuda-pemudi Hindu untuk menciptakan hidup yang harmonis seperti tema kegiatan Olahraga Gembira X, yaitu “Spirit to Live in Harmony”

keasikan menonton pertandingan

basket putra

Basket Putri