SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Hari Raya Nyepi

Oleh: Ketut Kambiawan

Setiap agama dipastikan memiliki hari raya kebesarannya masing-masing. Tak  terkecuali dengan umat Hindu yang terkenal dengaan ritual-ritual keagamaannya yang unik. Umat Hindu secara nasional di Indonesia diakui memiliki satu hari raya besar yaitu Hari Raya Nyepi. Umat Hindu selalu merayakan Hari Raya Nyepi setiap satu tahun  sekali yang dikenal dengan tahun baru caka. Pada hari kebesaran tersebut umat Hindu harus mengikuti tahapan-tahapan ritual dalam rangka untuk pembersihan lahir dan batin.Nyepi berasal dari kata sepi, sunyi, dan senyap. Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu yang sudah dimulai sejak tahun 78 masehi. Di Hari Raya Nyepi ini seluruh umat Hindu akan melakukan perenungan untuk kembali menjadi manusia yang fitrah, suci lahir dan batin. Makanya tak heran ketika perayaan Nyepi semua aktifitas yang biasanya  dilakukan   masyarakat dihentikan, termasuk juga fasilitas umum. Hari Raya Nyepi dirayakan dengan beberapa tahapan acara meliputi upacara melasti, penogtogan, Nyepi dan Ngembak Geni.

Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di pura di arak ke tempat-tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau  dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.Sehari Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna atau Penogtogan yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh-roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala (Raksasa Jahat) dalam bahasa Bali-nya disebut Ogoh-ogoh. Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal apisan , sasih kedasa , tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian yang terdiri dari amati geni yaitu tidak mengunakan atau menyalakan api, amati karya yaitu tidak bekerja, amati lelungan yaitu tidak berpergian, dan amati lelanguan yaitu tidak bermain-main. Semua ritual itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Sehari setelah Hari Raya Nyepi diadakan Upacara Ngembak Geni. Pada hari ini dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf-memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai Tahun Baru Caka dengan hal hal baru yang fositif, baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi.

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Tumpek Wayang

Oleh: Desak Made Sandya Anggraswari

Dalam kegiatan umat Hindu di Bali, banyak kegiatan ritual keagamaan yang dilaksanakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memohonkan supaya kehidupannya bisa lebih bermakna dan bermanfaat. Selain itu, banyak ritual keagamaan yang juga dilaksanakan dalam rangka mengucap syukur atas keselamatan dan anugerah yang telah didapatkan. Oleh karena itu, pada umumnya saat umat Hindu mengadakan ritual biasanya menggunakan sesajen sebagai perantara dan symbol dari ucapan syukur dan terima kasih atas rahmat yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setiap upacara maupun ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu memiliki berbagai makna dan tata cara yang berbeda-beda. Ritual keagamaaan yang dilaksanakan oleh umat hindu merupakan bagian dari yadnya. Yadnya yang berasal dari kata Yaj berarti memuja. Secara etimologi, yadnya dapat diartikan sebagai korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Jenis-jenis Yadnya dalam agama Hindu dari segi waktu pelaksanaannya dapat dibagi menjadi dua klasifikasi, yakni:

1. Nitya Yadnya, yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain dalam bentuk persembahan berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari.

2. Naimitika Yadnya, yaitu yadnya yang dilakukan secara berkala pada hari-hari tertentu atau bersifat insidentil. Yadnya ini pada umumnya berbentuk persembahan/upakara.

Salah satu contoh dari Naimitika Yadnya antara lain Upacara Tumpek. Umat Hindu (khususnya di Bali) sering merayakan “Tumpek” yang jatuh pada hari Sabtu. Umat Hindu sendiri mengenal berbagai macam Tumpek dengan tujuan yang berbeda pula. Tumpek berasal dari kata Metu dan mpek. Metu yang artinya : Awal dan Mpek yang artinya Berakhir. Jadi Tumpek berarti merupakan Awal dan juga akhir.

Tumpek bisa diartinya cara mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta dengan jalan mensyukuri segala ciptaannya baik yang kita nikmati secara langsung maupun tidak langsung. Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakn gabungan dari Caka Surya Pramana dan Chandra Pramana serta Wuku yang kita kenal sebanyak tiga puluh wuku. Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu Tumpek Landep, Tumpek Pengarah, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon.

Saniscara Kliwon wuku Wayang atau yang sering disebut dengan Tumpek Wayang adalah salah satu hari raya suci umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali. Tumpek Wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara; Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara; dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan.

Pada hari Tumpek Wayang adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu di Bali menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macam benda seni (wayang, barong, rangda, topeng) dan kesenian, tetabuhan, seperti:gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain. Aktivitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater total. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

Bebantennya yaitu : suci, peras, ajengan, sedah woh, canang raka, pesucian dengan perlengkapannya dan lauknya itik putih. Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar selamat dan beruntung dalam melakukan pertunjukan-pertunjukan, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton. Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.

Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan ke hidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan. Tumpek wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya. Orang yang menjadi mediator inilah disebut seorang Dalang atau Samirana, Hyang Iswara juga memberikan kekuatan seorang Dalang sehingga mampu membangkitkan cita rasa seni dan daya tarik yang mampu memberikan sugesti kepada orang lain yaitu para penontonnya. Kekuatan inilah yang disebut dengan taksu maupun raganya, karena didalam pementasan wayang kulit, seorang Dalang mampu menyampaikan cerita yang penuh dengan filsafat humor, kritik, saran, serta realita kehidupan se hari-hari sehingga para penonton membius alam pikirannya sehingga muncullah kekuatan sugesti dari diri masing-masing. Oleh karena itu kehidupan umat manusia di dunia sesungguhnya tidak hanya memelihara pisik semata, namun perlu ke seimbangan antara pisik dan mental spiritual yang mana banyak tercermin di dalam pelaksanaan atau perayaan Tumpek Wayang bagi umat Hindhu yang dirayakan setiap enam bulan (dua ratus sepuluh hari ).

Makna dari pada Tumpek Wayang, sebagaimana kita ketahui kehidupan di dunia selalu diliputi oleh dua kekuatan yang disebut Rwa Bineda, yang sudah barang tentu ada pada sisi ke hidupan manusia . Dengan bercermin dari tatwa, filsafat agama mampu membawa kehidupan manusia menjadi lebih bermartabat. Karena dari ajaran atau filsafat agama mampu akan memberikan pencerahan kepada pikiran yang nantinya mampu pula menciptakan moralitas seseorang menjadi lebih baik dari segi aktifitas agama se hari hari kita mendapatkan air cuci ke hidupan melalui tirta pengelukatan yang berfungsi untuk meruak atau melebur dosa di dalam tubuh manusia, maka dari itu seorang dalanglah yang mendapat anugerah untuk melukat diri manusia baik alam pikirannya maupun raganya.

(Sumber: Parisadha Hindu Dharma Indonesia, Denpasar Post, dan berbagai sumber lainnya)

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

TRY OUT UJIAN SARINGAN MASUK SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TAHUN 2015 goes to Bali

Oleh: Putu Rika Juwitareni

Awalnya kami merasa harap-harap cemas mengenai jumlah peserta mengingat dalam beberapa tahun terakhir KMHB STAN tidak dapat mengadakan try out karena terbentur jadwal ujian adik-adik SMA dan jadwal libur kami. Kami mengira peserta yang datang hanya sekitar lima ratus orang, dan ternyata perkiraan kami salah. Justru peserta yang mengikuti try out ini jauh melebihi perkiraan. Try out ini awalnya hanya kami adakan di Denpasar, namun ternyata peserta dari Daerah Singaraja cukup banyak jadi kami juga mengadakan try out di Singaraja. Pelaksanaan try out di Denpasar yaitu berlokasi di SMAN 1 Denpasar, sedangkan di Singaraja dilaksanakan di SMAN 1 Singaraja. Keduanya diadakan pada hari yang sama yaitu pada tanggal 8 Maret 2015.

Kegiatan berlangsung dengan lancar walaupun sebagian besar kendala bersumber dari minimnya jumlah personil atau panitia, namun dapat ditolerir dengan bantuan teman-teman dari Balai Diklat Keuangan Denpasar dan beberapa kakak-kakak alumni. Pada hari H juga terjadi pengeluaran mendadak untuk ketertiban dan keamanan parkir mengingat jumlah peserta yang datang kebanyakan menggunakan sepeda motor dan tentu saja memakai helm.

Namun secara umum kegiatan try out berjalan dengan baik berkat solidaritas dan kerjasama baik dari sesama anggota maupun dari kakak-kakak alumni yang selalu mendukung kegiatan kami. Semoga tahun ini lebih banyak lagi siswa baru yang berasal dari Bali dan menjadi bagian dari Keluarga ini.