SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Perbedaan Agama menurut Hindu

Oleh: Yogie Eka Putra

Om Swastyastu.

Kita semua, apapun agamanya, pernah mendengar statement “Tuhan itu satu, hanya ajaran-Nya yang berbeda-beda.”  Ajaran yang dimaksud disini adalah agama. Padahal setiap agama mengajarkan satu hal yang sama yaitu dharma/kebenaran. Hanya saja setiap agama memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikan dharma. Setiap manusia yang beragama percaya bahwa Tuhan itu satu namun mereka juga percaya bahwa ajaran agama yang paling benar hanya satu, yaitu ajaran agama yang dianutnya. Keegoisan ini menimbulkan salah satu dampak yang disebut penggolongan manusia. Orang-orang di luar kepercayaan agama yang dianutnya dianggap kafir. Bagaimana rasanya jika orang menyebut Anda kafir? Pasti perasaan yang langsung terbentuk adalah rasa marah, benci, dan energi-energi negatif lainnya terhadap orang itu dan ini bisa berakibat pada perkelahian manusia atas nama agama. Tapi penggunaan kata kafir dewasa ini lebih ditujukan kepada orang-orang yang tidak beriman atau tidak percaya dengan ajaran Tuhan. Walaupun kesannya lebih halus tetap saja penggolongan manusia yang beragama dan tidak beragama adalah suatu hal yang salah.

Perbedaan agama memang sesuatu yang wajar, dan kita sebagai manusia harus menyikapinya dengan pikiran yang terbuka. Mahatma Gandhi pernah ditanya apa agama yang dianutnya, dan dia berkata, “Saya bukan Hindu, saya bukan Islam. Agama saya adalah Agama Cinta.” Jadi saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Gandhi adalah ingin menunjukkan bahwa yang seharusnya ditonjolkan dari agama adalah kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi, dan rasa persaudaraan. Itu sebenarnya hakikat dari agama. Di dalam agama Hindu sendiri ada beberapa sloka dari Bhagawad Gita mengenai perbedaan agama.

Yo yo y?m y?m tanum bhaktah ?raddhay?rcitum icchati, tasya tasy?cal?m ?raddh?m t?m eva vidadh?my aham

(Bhagawad Gita, 7:21)

Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang, Aku perlakukan mereka sama dan Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap.

Dari sloka yang pertama kita ketahui bahwa Krishna atau Tuhan menganggap semua agama itu sama. Tuhan tidak membeda-bedakan kita dari agama yang kita anut. Semua orang diperlakukan setimpal dengan apa yang mereka perbuat. Dan jika orang beragama lain membaca dan memahami makna dari sloka tersebut maka mereka akan tahu bahwa sloka tersebut tidak berusaha menakut-nakuti atau mengancam orang-orang non-Hindu melainkan menghendaki mereka agar tetap pada jalannya.

E yath? m?m prapadyante t?ms tathaiva bhaj?my aham, mama vartm?nuvartante manusy?h p?rtha sarva?ah

(Bhagawad Gita, 4:11)

Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, semuanya akan Kuterima, manusia mengikutiKu dalam banyak jalan, Oh Partha.

Dari sloka yang kedua, Krishna menjelaskan bahwa manusia menyembah Tuhan dengan banyak jalan dan semua jalan yang ditempuh manusia mengarah pada satu tujuan yaitu Tuhan. Oleh karena itu apapun agama yang dianut seseorang semuanya akan diterima oleh Tuhan.

Melihat dua sloka dari Bhagawad Gita tersebut, bisa kita simpulkan bahwa agama Hindu memandang agama yang berbeda sebagai suatu hal yang sama. Kita sebagai umat Hindu sudah seharusnya menyikapi perbedaan agama sesuai dengan yang diajarkan Bhagawad Gita. Kita boleh bangga dengan agama kita tapi jangan kita rendahkan agama lain.  Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan dharma hanya penganutnya saja yang menjalankan perintah-perintah agama dengan cara yang salah. Jangan juga kita menghasut orang lain agar masuk agama kita, karena kita bukanlah seorang ‘salesman’ suruhan Tuhan yang menawarkan jasa keselamatan di akhirat. Pada akhirnya sikap penting yang harus kita miliki dalam menghadapi perbedaan agama adalah toleransi dan keterbukaan. Dengan dua hal tersebut, saya yakin hakikat yang sebenarnya dari agama akan kita rasakan.

Om Santi Santi Santi Om.

Sumber: pribadi dan referensi dari blog

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Mengenal Tri Kaya Parisudha Lebih Dalam

Oleh I Gusti Agung Ngurah Wisnu Dwipayana

Agama Hindu menurut beberapa sumber adalah agama tertua di dunia, Agama Hindu seperti diketahui berasal dari Hindia, hasil dari peleburan budaya antara Bangsa Arya dan Bangsa Dravida. Setelah itu Agama Hindu menyebar dengan pesat ke segala penjuru Dunia, dan tentu saja masuk ke Indonesia dengan berbagai cara, mulai dari para pedagang, para guru, dan pemuka agama.

Ajaran Agama Hindu banyak yang dipakai sebagai teladan pedoman hidup manusia dari waktu ke waktu, salah satu ajaran yang sangat terkenal adalah Tri Kaya Parisudha, ajaran yang termasuk bagian dari ajaran Etika ini mengajarkan untuk umat hindu untuk menjaga Pikiran (Manacika), Perkataan (Wacika), dan Perbuatan (Kayika) mereka. Ajaran ini tidak jauh berbeda dengan ajaran “Three Wise Monkeys” yang berasal dari jepang yaitu: See No Evil (tidak melihat keburukan), Hear No Evil (tidak mendengar keburukan) dan Speak No Evil (tidak berbicara keburukan). Tidak tahu ajaran manakah yang lebih terkenal, atau lebih dipakai masyarakat, tetapi dari kedua contoh ajaran diatas kita tahu bahwa ajaran diatas sama sama mengajarkan manusia/ umat Hindu untuk mengendalikann dirinya, mengendalikan indranya dari hal hal duniawi, yang dapat menyebabkan ketergantungan, yang tentu saja nantinya akan berujung kesedihan, selain itu dalam mengendalikan diri kita, ternyata bukan hanya perbuatan saja yang harus dikendalikan, tetapi ada beberapa hal lain yang bisa dikendalikan, mulai dari kata kata, dan tentu saja pikiran kita.

Sebelum membahas lebih dalam perlu kita tahu, bahwa Tri Kaya Parisudha mengandung arti: Tri yang berarti tiga, Kaya yang berarti gerak atau perbuatan, dan Parisadha yang artinya suci, jadi Tri Kaya Parisudha mempunyai makna tiga gerak atau perbuatan yang harus disucikan. Dari ketiga bagian Tri Kaya Parsudha tersebut tentu saja, memiliki keterkaitan yang erat antar yang satu dengan yang lainnya, Kayika tidak akan bisa diwujudkan bila tidak didasarkan atas Manacika, Wacika juga tidak akan bisa dilaksanakan bila tidak dengan pikiran yang baik (Manacika), begitu juga dengan Manacika tidak akan terlihat dan diimplementasikan bila tidak dengan perkataan dan perbuatan yang baik.

Tri Kaya Parisudha memang ilmu dasar, tetapi sangat penting, sangat sulit mencari orang yang berbudi pekerti luhur dan masih memegang teguh ajaran ini, diyakini ketiga jalan ini akan menuntun kita menuju kebaikkan dan akhirnya ketingkat yang lebih tinggi, atau tujuan akhir agama Hindu, yaitu Moksa.

Seperti ajaran karma, bila kita berbuat jahat tentu saja akan menuai hasil yang tidak baik, dan apabila kita berbuat kebaikan tentu saja hasilnya akan baik, kita lihat dari ajaran karma tidaklah  dikatakan berlebihan mengatakan bahwa hidup menjadi manusia merupakan karunia yang harus disyukuri dengan kelebihan yang dimiliki seperti sabda, bayu, idep dan dilengkapi dengan ajaran Tri Kaya Parisudha sudah sepantasnya bila manusia menjalankan dan memakai hidupnya untuk berbuat kebaikan (Subha Karma).

Sekarang, muncul pertanyaan manakah yang lebih penting dari ketiga bagian dari Tri Kaya Parisudha? Kita semua tahu bahwa ketiganya sama sam penting, tapi apakah pernah muncul pertanyaan seperti ini ? Apakah dengan Wacika saja cukup ? Apakah dengan Manacika saja cukup ? Apakah harus digabung ? Tapi manakah yang lebih penting? Mari liahat uraian dibawah ini.

Andi adalah anak SMA yang ingin berbuat baik terus menerus, dan ingin menuju jalan dharma, maka dari itu, Andi memulainya dari memperbaiki prilakunya, setiap hari Andi berbuat baik, tidak lagi menjahili temannya atau berkelahi dengan teman sekolahnya semua berjalan dengan baik, akan tetapi ternyata tutur kata Andi masih sangat kotor, Andi memang sudah mulai suka menolong orang tetapi dari mulutnya masih saja sering keluar kata yang dapat menyakiti hati seseorang, terlebih lagi Andi masih sering menggunakan kata umpatan saat berbicara. Melihat hal itu Andi tidak berhenti berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik, karena dirasa dirinya belum sepenuhnya berubah, oleh karena itu dia mulai mengubah cara berpikirnya, dia menjadi lebih terbuka, tidak memandang hanya dari satu sudut pandang dan selalu, berpikiran positif. Setelah mengubah mindsetnya Andi menjadi lebih mudah dalam menghadapi hidupnya, dia menjadi lebih ramah dan sopan dalam bertutur.

Apa yang kita dapat dari uraian diatas adalah, bahwa dalam ajaran Tri Kaya Parisudha mengatur dan mengendalikan ketiga hal itu sangatlah penting, tetapi ada baiknya bila kita ingin membuat semua terasa mudah, hal pertama yang harus dikendalikan adalah pikiran kita yaitu Mana, karena setelah pikiran dikendalikan, sikap dan tutur kata kita akan mengikuti dengan sendirinya. Jadi biasakan lah mulai dari pusatnya, yaitu pikiran, bila pikiran kalian sudah baik, maka semua akan berjalan dengan baik

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

TRADISI “NGELAWANG” BARONG BANGKUNG DI HARI RAYA GALUNGAN

Oleh: I Gusti Ngurah Satrya Parama Artha

Hari raya Galungan adalah hari raya yang dirayakan oleh umat Hindu setiap enam bulan sekali, tepatnya pada budha keliwon, wuku dungulan. Hari raya Galungan diperingati sebagai hari kemenangan dharma (kebaiakan) melawan adharma (kebatilan). Hari raya Galungan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu. Khususnya umat Hindu yang ada di Bali. Selain hari untuk memperingati kemenangan dharma atas adharma, pada saat hari raya Galungan juga dijadikan waktu untuk berkumpulnya sanak saudara dan keluarga, mempererat hubungan keluarga dan semangat kebersamaan, karena pada saat hari raya Galungan semua sanak saudara dan keluarga yang berada diluar Bali rata-rata pulang untuk melaksanakan ibadah persembahyangan. Menyambut hari raya Galungan, umat Hindu di Bali disibukkan untuk mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk hari raya Galungan.

Hal ini karena hari raya Galungan memiliki banyak rangkain, sebelum akhirnya puncaknya pada hari raya Galungan, mulai dari hari sugihan jawa, sugihan bali, hari penyajaan, hari penampahan, dan akhirnya hari raya Galungan. Begitu banyaknya rangkain hari Galungan membuat umat Hindu di Bali mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. dari rangkain hari Galungan tersebut, tiga hari sebelum  hari raya Galungan adalah hari yang  paling sibuk.

Diawali dengan hari penyajaan. Hari penyajaan adalah dua hari sebelum hari raya Galungan. Pada hari penyajaan ini umat Hindu di Bali biasanya membuat jajan bali yang nantinya akan digunakan sebagai sarana upacara pada saat hari raya Galungan. Keesokan hari setelah hari penyajaan adalah hari penampahan. Pada hari penampahan ini umat Hindu di Bali melakukan penyembelihan babi. Kata penampahan sendiri berarti menyembelih, biasanya hewan yang disembelih adalah babi. Proses penyembelihan ini dilakukan oleh bapak-bapak  yang sebelumnya telah sepakat  iuran uang  untuk membeli babi yang akan disembelih. Saat proses penyembelihan inilah terlihat kebersamaan, kekeluargaaan dan  rasa gotong royong antar umat Hindu di Bali.

Pada saat sore hari di hari penampahan, ada tradisi yang sangat erat kaitannya dengan hari raya Galungan, tradisi ini disebut ngelawang. Tradisi ngelawang adalah tradisi yang dilakukan oleh anak-anak, remaja, sampai dewasa yang dilakukan dengan cara jalan kaki dari rumah ke rumah dengan diiringi seperangkat gong (gamelan Bali) sederhana antara lain berupa gong , kecek, kendang, gong dan klenang serta membawa tedung (payung khas Bali). Ngelawang merupakan tradisi  sekaligus hiburan tarian barong yang hanya dijumpai pada saat hari raya Galungan. Adapun barong yang digunakan adalah barong bangkung. Barong bangkung mengambil bentuk menyerupai babi dengan warna gelap dan memiliki rupa yang seram, bentuk menyerupai babi ini memiliki makna dan esensi tersendiri. Barong bangkung dimainkan  oleh  dua orang penari (tukang bapang barong) , satu orang di didepan dan satu orang lainnya di belakang.

Oleh sebab itu tradisi ngelawang pada setiap hari raya Galungan masih tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Tradisi ngelawang barong bangkung ini biasanya dilakukan pada sore hari satelah persembahyangan selesai. Tradisi ngelawang ini selain untuk melestarikan budaya, juga bisa mendatangkan penghasilan bagi kelompok remaja (sekeha) barong tersebut karena pementasan di setiap pekarangan rumah penduduk, pemilik rumah biasanya memberikan upah (ngupah) yang besarannya disesuaikan dengan waktu pementasan. Misalnya Rp. 10.000/10 menit.



Barong bangkung di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Agama Hindu

Agama Hindu

Oleh Putu Wisnu Sudhana Yoga

Om Swatiastu,

Saya ingin membahas sedikit mengenai agama Hindu. Agama Hindu adalah agama yang  mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Agama  Hindu sudah ada di dunia sejak 1500 SM dimulai dari masuknya bangsa Arya ke India. Kata Hindu berasal dari bahasa sanskerta, Shindu berkembang sedemikian rupa sampai dengan agama kita kenal sekarang ini. Tidak banyak yang tahu soal asal mula agama Hindu. Hal ini karena sejarah agama tersebut telah ada sebelum masa penulisan sejarah berkembang. Agama ini tidak seperti agama-agama lain, dalam agama Hindu tidak dapat diketahui secara pasti siapa pembawa pertama ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu kesulitan dalam mempelajari agama Hindu.

Agama Hindu memiliki kitab suci yang disebut sebagai Weda. Weda dituliskan dalam 4 bagian yaitu Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Ada banyak teori yang mengajarkan kita bagaimana cara agama Hindu masuk ke Indonesia dan juga banyak bukti tertulis yang memberi tahu sejarah masuknya agama Hindu ke Indonesia. Asal-usul agama Hindu dilanjuti dengan adanya sistem kasta yang berkembang baik di India maupun di Indonesia. Kasta adalah sebuah status atau strata sosial ada 4 sistem kasta yang berkembang, yaitu:

  1. Kasta Brahmana
  2. Kasta Ksatria
  3. Kasta Waisya
  4. Kasta Sudra

Bagaimana riwayat munculnya kasta – kasta ini,masih merupakan masalah yang rumit dan membingungkan tapi sistem kasta ini diyakini berasal dari bangsa Arya yang berusaha agar tidak bercampur darah dengan bangsa india asli yang dikenal sebagai bangsa Dravida, karena mereka merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan bangsa yang telah mereka taklukan. Tetapi akibat peperangan bangsa Arya mengalami kekurangan wanita untuk mereka nikahi, terpaksa mereka mencari wanita dari bangsa Dravida untuk dinikahi, ini menyebabkan anak dari pernikahan tersebut turun derajatnya menyebabkan kesenjangan status sosial. Dulu kasta tersebut pun berkembang di Indonesia, namun seiring perkembangan zaman, strata sosial tersebut memudar karena tidak cocok dengan kebudayaan di Indonesia.

Banyak orang non-Hindu berpikir agama Hindu adalah agama politeis atau agama yang percaya kepada banyak Tuhan. Di dalam pemujaan itu sering kali umat Hindu membuatkan patung atau lukisan gambar yang disesuaikan dengan peranan masing-masing dewa/dewi tersebut di dalam kehidupan manusia. Patung atau lukisan tersebut merupakan simbol dari dewa/dewi yang disembah. Pemikiran tersebut merupakan pemikiran yang kurang tepat karena umat Hindu hanya mempercayai satu Tuhan yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, lalu bagaimana dengan dewa/dewi yang lainnya yang dibuatkan patung atau lukisan?

Dewa/dewi yang ada selama ini merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi, apa itu manifestasi?

Manifestasi yaitu percikan kecil dari Brahman (Tuhan) yaitu Atman yang tanpa wujud itu memakai suatu wujud. Jadi Atman mengenakan suatu wujud materi, misalnya badan kasar manusia, badan halus Dewa. Sedangkan patung dan lukisan merupakan interpretasi melalui simbol dan seni dari umat Hindu untuk menggambarkan manifestasi Sang Hyang Widhi tersebut. Umat Hindu memang terkenal dengan kemampuannya di bidang seni. Banyak sekali yang belum diketahui mengenai agama Hindu bahkan oleh umatnya sendiri. Jadi, sebagai umat Hindu kita tidak boleh berhenti untuk mempelajari dan mengksplorasi agama kita tercinta.

Om Shanti Shanti Shanti Om