SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Here is a special website announcement..... Here is a special website announcement...

Dharmayatra KMHB 2016: “Bersama Memupuk Dharma dengan Tri Hita Karana”

Oleh: I Gusti Agung Ngurah Wisnu Dwipayana

Dharmayatra adalah salah satu dari ajaran Sad (enam) Dharma yang berarti perjalanan agama, Dharmayatra sendiri terdiri dari 2 suku kata, pertama dharma berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata “dhr” (baca: dri) berarti ajaran, kewajiban atau peraturan- peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang luhur. Sedangkan kata yatra berarti tempat, jadi dapat diartikan secara keseluruhan kata Dharmayatra berarti adalah perjalanan suci, perjalanan agama untuk mencari jalan kebenaran sekaligus untuk menuntun manusia agara bisa lebih dekat dengan tempat suci dan memaknainya dengan seksama. Adapula tujuan Dharmayatra kurang lebih adalah

  1. Meningkatkan kesucian diri sendiri dan memperkuat ikatan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Menghayati nilai nilai sejarah maupun, mempelajari kondisi lingkungan sekitar tempat yang dikunjungi
  3. Mengimbangi dosa dosa yang telah diperbuat dengan jalan melakukan dharma (Melakukan Dharmayatra)

Peserta Dharmayatra KMHB PKN STAN 2016

Pada kesempatan kali ini, Keluarga Mahasiswa Hindu Budha PKN STAN (KMHB PKN STAN) mengadakan Dharmayatra, dengan mengangkat tema “Bersama Memupuk Dharma dengan Tri Hita Karana”. Tema ini mengandung makna bahwa dengan melakukan perjalanan suci ke beberapa tempat suci disertai hati yang tulus (dharma) ditambah dengan memperhatikan Tri Hita Karana, akan membawa keselarasan dalam perjalanan itu sendiri. Tri Hita Karana sendiri mempunyanyai arti hubungan antara manusia dengan Tuhannya, Manusia dengan Alam Sekitarnya, dan Manusia dengan sesamanya ketga hubungan ini akan membawa kesejahteraan bila dilakukan berdasar dharma dan nantinya akan menciptakan keharmonisan.

Dengan mengangkat Tema tersebut, KMHB akan melakukan perjalanan agama ke Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan tersebut dilaksanakan pada tanggal 25-27 Maret 2016, Dharmayatra kali ini diikuti oleh anggota KMHB tingkat 1, tingkat 2, serta tingkat 3 dari kampus PKN STAN. Setelah semua barang lengkap, semua peralatan telah disiapkan, semangat telah terkumpul maka perjalanan suci pun dimulai,

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00, bus pun telah menunggu untuk diberangkatkan di depan kampus STAN, setelah terlebih dahulu melakukan briefing, peserta pun masuk ke dalam bus dan bersiap menuju ke tempat labuhan pertama yaitu, Rawamangun. Di Rawamangun sendiri sudah menunggu peserta lainnya yang berasal dari Prodi Kepabenan Dan Cukai. Rombongan dari kampus STAN pun bertemu dengan peserta lainnya di Pura Aditya Jaya, Rawamangun. Di pura ini seluruh peserta melakukan sradha bakhti terlebih dahulu dengan tujuan meminta keselamatan dan kesehatan agar acara ini berjalan lancar, seluruh peserta terlihat khusuk dalam mengikuti sradha bakhti. Setelah melakukan persembahyangan para peserta pun menyempatkan diri untuk berfoto sebagai dokumentasi perjalanan. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00, menandakan para peserta harus menuju destinasi kedua mereka, yaitu Terminal Muntilan, Magelang. Lokasi kedua ini berjarak cukup jauh dari Jakarta, oleh karena itu diperkirakan Bus baru akan sampai pada pagi hari di Magelang.

Sungguh waktu yang sangat lama di bus, karena para peserta harus melewatkan malam di dalam bus, tetapi para peserta tentu saja mempunyai cara tersendiri untuk menyibukkan diri mereka, ada yang bernyayi dan bermain gitar, ada yang mendengarkan music, dan ada juga yang bercanda riaa sembari menunggu bus sampai tujuan. Tidur pun menjadi kegiatan yang paling digemari untuk menghabiskan waktu. Di dalam bus itu terlihat dari hampir setengah peserta yang tidur, walaupun waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.

Tak terasa, matahari pagi pun mulai menerpa wajah peserta, ternyata kami sudah memasuki daerah Magelang, cuaca cerah dan suasana kota Magelang pun menyambut hari kedua dari perjalanan kami. Bus pun menghentikan rodanya dan beristirahat si sekitar daerah Stasiun Muntilan, disini semua peserta diberikan waktu untuk membersihkan diri dan menikmati sarapan pagi. Bau khas jajan tradisonal pun mamasuki hidung menandakan kesan tradisonal yang masih kental menghiasi Stasiun Muntilan ini. Semua masih sederhana jauh dari suasana modern. Pemandangan ini pun menjadi salah satu pengalaman tersendiri yang menyertai perjalanan kami.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di Stasiun Muntilan (3 jam, lama sekali -_-), rombongan langsung menuju destinasi selanjutnya yaitu Pura Eka Bhakti, di Gunung Kidul. Perjalanan menuju Gunung Kidul memakan waktu sekitar 4 jam, dikarenakan medan yang menanjak dan berliku liku, membuat bus harus lebih bekerja keras. Sesampainya di Pura Eka Bhakti, kami sudah disambut oleh masyarakat disana dan disuguhkan jajanan khas Gunung Kidul serta segelas teh hangat. Kami pun merasa malu dengan jamuan seperti ini, masyarakat juga telah menunggu kedatangan kami dari pukul 9 pagi yang menandakan betapa mereka begitu menghargai dan menghormati kunjungan kami kali ini, rombongan Dharmayatra sangat berterimakasih dengan perlakuan masyarakat Pura Eka Bhakti. Disana kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami disertai dengan melakukan Puja Tri Sandhya. Masyarakat Pura yang kebanyakan adalah orang tua dengan sangat senang menerima bantuan kami berupa buku buku agama dan perlatan lainnya yang dapat membantu kegiatan spiritual disana.

Pura Derpokusumo adalah tujuan kedua kami, Pura yang tak jauh dari Pura Eka Bhakti. Hanya sekitar 2 kilometer. Perjalanan menuju kesana pun dilakukan dengan memakai kendaraan khusus yang telah disediakan karena medan yang begitu menanjak dan jalan yang masih bergelombang. Pura Derpokusumo pun bukan tanpa kejutan, Pura yang bisa dibilang jauh dari pusat keramaian ini ternyata memiliki banyak keindahan untuk dipamerkan, bisa dilihat dari banyaknya anak anak dan orang tua yang saling membantu sama lain, raut wajah mereka yang tak menunjukkan kesedihan malah selalu tersenyum. Mereka memiliki ikatan yang begitu kuat, dan tanpa ragu mereka memperkenalkan keadaan mereka kepada kami. Masyarakat disana menyambut kami layaknya tamu kerajaan, mereka menyuguhkan kami lauk dan nasi untuk santapan sore diiringi dengan alunan gamelan berirama merdu yang dimainkan oleh beberapa ibu ibu disana.

“Tujuan kami kesini adalah untuk lebih mengenal satu sama lain dan mendekatkan diri kepada sesama umat hindu yang ada serta untuk saling berbagi pengalaman” kata ketua KMHB, Windu. Sembari memperkenalkan diri kepada masyarakat Pura Derpokusumo. Masyarakat pun terlihat sangat senang, hampir semua orang melemparkan senyum tanda menerima kedatangan kami, mereka pun menerima dengan senang hati bantuan berupa buku-buku agama yang diberikan oleh panitia. Kunjungan ke Pura Derpokusumo pun memberi pelajaran pada kami bahwa apapun yang dilakukan dengan gotong royong pasti akan terasa lebih mudah, terlihat dari kalangan tua samapai kalangan muda membantu sama lain untuk membangun desa maupun Pura Derpokusumo tersebut.

Suasana dingin mulai menyerang tubuh menandakan hari sudah mulai gelap, kami pun pamit diri dari Pura Derpokusumo untuk menuju tujuan terakhir kami yaitu Pura Girinatha. Perjalanan ke Pura Girinatha bisa dibilang cukup singkat hanya 45 menit dan kami pun sampai di tujuan terakhir Dharmayatra kali ini. Di Pura Girinatha sendiri mempunyai kesan berbeda dari Pura – Pura yang sebelumnya di Pura ini mempunyai kesan tenang dan sejuk, yang menarik dari pura ini adalah masyarakat di pura ini lebih dar 95% adalah orang orang tua yang telah lansia dan hanya memiliki sekitar 2 atau 3 orang yang masih produktif, walaupun begitu semangat mereka untuk terus memajukan dan melestarikan kebudayaan hindu tak pernah pudar, luar biasa.

Setelah melaksanakan sradha dan bakhti, kami pun membentuk lingkaran untuk berdiskusi dan berbincang bincang dengan masyarakat di pura Girinatha. “Bisa diliat adek adek, walaupun umur kami disini tidak ada yang sedikit kami masih berusaha agar budaya Hindu di daerah Yogya. Setidaknya sampai saat ini Hindu sedang berkembang pesat disini, oleh karena itu kami harus semangat.” Tutur salah seorang masyarakat, mendengar hal itupun kami mengerti seberapa besar semangat orang orang disini untuk terus mengembangkan dan melestarikan Agama Hindu, dan itupun menjadi bahan renungan kami sebagai generasi muda tentunya, untuk meneruskan apa yang telah dilakukan oleh para generasi terdahulu, yaitu tetap memegang teguh Hindu dan berjalan di jalan Dharma.

Kunjungan ke Pura Girinatha pun mengakhiri perjalanan Dharmayatra kami, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang kami dapatkan dari Dharmayatra kali ini. Dan Dharmayatra kali ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan suci yang berikutnya, seperti mengutip salah satu sloka

Sarasamuscaya 279:

SADA DARIDRAIRAPI HI SAKYAM PRAPTUM NARADHIPA TIRTHABHIGAMANAM PUNYAM YAJNERAPI WISISYATE

Keutamaan tirthayatra itu amat suci, lebih utama daripada pensucian dengan yadnya yang lain dan dapat dilakukan oleh yang tidak punya harta.

Tak terasa hari sudah pagi dan, langit cerah pun mengantarkan kami pada akhir dari perjalanan suci kali ini, semoga perjalanan suci kali ini membawa pengaruh positif bagi semua peserta yang mengikutinya.

[LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN DHARMAYATRA KMHB PKN STAN 2016] dapat diakses di link berikut: https://goo.gl/bcV0Mp