SautBox

Kalender Bali

Album KMHB

Hindu di Mata Orang-Orang Besar Dunia!


“… Mereka bilang hidup itu pendek, kita hanya dapat sekali kesempatan… dulu aku takut mati, ku pikir itu akhir dari semua. Tapi itu dulu, aku tak takut sekarang… I know that my soul will transcend… I believe that after we’re gone, spirits carries on!

Kata Dream Theater di lagu “The Spirits Carries On”. Jiwa melanjutkan? Reinkarnasi kah? Entahlah, tapi video clip nya memang bercerita tentang reinkarnasi. Sebuah video opera yang rumit! Aku bertanya-tanya, bukankah reinkarnasi bukanlah dalil khas agama Samawi? Reinkarnasi adalah khas agama timur, Hindu.

“Mengapa aku begini sekarang, pasti karena buah karma kehidupanku yang dulu,” kata Steve. “Hidup itu tentang karma dan perjalanan jiwa.” Steve menjadi vegetarian pecinta buah apel dan sesekali ikut prosesi Hare Khrisna untuk mencari ketenangan jiwa.

Ia adalah Steve Jobs, pendiri Apple Computer Inc.

“… bom nuklir mengingatkanku kepada Dewa Hindu Wishnu yang berkata, “Aku adalah Maut, penelan segala sesuatu,” kata Robert Oppenheimer spontan, mengutip sloka Bhagavad Gita saat melihat percobaan bom atom pertama.

Ia adalah Father of the Atomic Bomb, pemimpin pertama Manhattan Project. Bagi pembaca biografi Einstein tentu nama project ini tak asing.

“Bangsa Arya bermartabat tertinggi!” cetus Adolf Hitler, “leluhurku itu, arya-lah pembawa ajaran Vedik, dimana aku kagum pada filosofis Swastika dari mereka itu. Bahkan konsep Vimanas, kendaraan kuno pada Weda adalah inspirasi dalam teknologi perang Nazi.”

Ia adalah… yeah tak perlu ku jelaskan siapa Hitler. Mengenai “Vimanas” silakan googling dan takjublah.

“Ayahku marah besar saat aku menangkapi ikan sembarangan. Ia mengingatkanku akan Tat Twam Asi, betapa mulia dan setaranya semua makhluk. Saatku di penjara, buku dari seorang tokoh Hindu, Svami Vivekananda-lah yang membuatku tetap kuat. Kata-katanya yang berapi bahkan kukutip dalam pidato Indonesia Menggugat yang kubuat didalam penjara.”

Ia adalah Bung Karno, orang yang menulisi kata pengantar buku Svami Vivekananda sendiri. Dengan tulisan tangan beliau!

Sudah, segitu dulu contohnya. Kalau mau lebih panjang lagi, silakan cari sendiri, hehe!

* * *

Mereka punya kesamaan, mereka sama-sama tidak terlahir sebagai pengenal Hindu atau Sanatana Dharma. Itu baru seberapa orang luar yang melihat keindahan Sanatana Dharma. Ya, Steve Jobs beragama Buddha ­–dan bukan hindu- tapi bukankah kata “agama” hanyalah sebuah penyekat? Butalah pengikut Sang Buddha yang tak melihat benang merah dua ajaran Hindu-Buddha. Di komik Buddha karya Ozamu Tezuka yang beragama Buddha-pun, terlihat Brahma menuntun perjalanan Sang Buddha. Dan lebih buta lagi pengikut Hindu yang tak hormat pada Sang Buddha, yang jelas-jelas Awatara, manifestasi Sang Pencipta di dunia pada keyakinan Hindu. Dan slogan negara ini sebenarnya menggambarkan kemanunggalan Hindu-Buddha di jaman keemasan nusantara dahulu.

See…?

Mereka, para tokoh mentereng di atas bangga dan cinta pada Hindu. Tapi sayangnya, mengapa masih ada orang Hindu yang malu dan terkesan ragu dengan kehinduannya? Ah, si penulis artikel ini mengada-ada saja, mana ada yang ragu. Ngarang ah, lebay! Tapi coba lihat kenyataannya. Tiap ditanya apa arti canang, galungan, bija, apalagi bagaimana rupa kitabnya, konon banyak orang Hindu jadi grogi dan blingsatan!

Mengapa mereka bisa ragu? Mungkin karena orang-orang Hindu yang ragu itu melihat Hindu dari sudut pandang berbeda dengan tokoh-tokoh mulia diatas. Berkat media yang giat menampilkan prosesi bunga+dupa+alam sebagai hal klenik ala Mak Lampir dan khas dengan pencari pesugihan lah, mata-mata sinis mulai tertuju pada ajaran Hindu.  “Ih, Hindu agama kuno, dewa, sajen, menyan, dan lain-lain”. Ya, media membuat kita percaya bahwa Mak Lampir adalah tokoh nenek tua, memakai sesembahan bunga dan asap, mengacup tangan pada arca dan berkata “Om Wilaheng wilaheng bla-bla…”, yang kalah pada tokoh bersorban. Pastinya Mak Lampir jahat! Padahal yang dilakukan Mak Lampir sejenis dengan nenek kita dirumah, bukan? Dengan canang, arca, dupa, dan sebagainya. Itu Hindu, dan sayangnya Hindu melalui personifikasi mak lampir, kisah pesugihan, dan lain-lain membuat banyak yang percaya bahwa agama ini kuno.

Itukah Hindu?

Entahlah….

Tapi yang pasti aku yakini, kalau Hindu memang seperti citranya sekarang, kurasa Steve Jobs, Oppenheimer, Hitler, ayah Bung Karno, Bung Karno sendiri, band prog metal macam Dream Theater dan tokoh-tokoh lainnya tak akan punya alasan untuk cinta ajaran ini. Tapi kenyataan berkata bahwa mereka punya alasan, alasan untuk cinta pada ajaran Sanatana Dharma.  Dream Theater dan Steve percaya karma dan reinkarnasi, Soekarno memegan Tat Twam Asi, Bhagavad Gita dan Upanisad bahkan dibaca banyak ilmuwan dan muncul di novel Lost Symbol karya Dan Brown tentang ilmu noetic science. Apa noetic science? Silakan googling lagi, hehe…

Lalu bagaimana denganmu? Cintakah engkau?

Temukan alasan untuk cinta. Jangan pergi tinggalkan dia untuk mencari alasan cinta diluar sana sementara dirumah sendiri kau belum mencari. Saya yakin Steve Jobs, Soekarno, dan lain-lain bukanlah orang bodoh. Yah, mereka telah menemukan yang (mungkin) belum kita temukan…

oleh: Nasionalis Rock n Roll

Komentar:

One Response to “Hindu di Mata Orang-Orang Besar Dunia!”

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco